Kisah Buah Majapahit Balik Kerajaan Besar Pemersatu Nusantara

CeritaKawan.comNama Majapahit bukan sekadar sebutan sebuah kerajaan besar yang pernah berjaya di Nusantara. Di balik nama itu tersimpan kisah sederhana yang lahir dari alam, yakni sebuah buah pahit yang menjadi awal mula penamaan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia.

Pada akhir abad ke-13, Raden Wijaya membuka sebuah hutan di wilayah Trowulan, Jawa Timur, untuk jadikan pemukiman baru. Di antara pepohonan yang ditebang, para pengikutnya menemukan banyak buah yang berwarna kekuningan namun terasa sangat pahit saat makan. Buah itu lalu sebut “maja yang pahit”, atau dalam bahasa Jawa kenal dengan maja pahit. Dari situlah muncul nama Majapahit sebuah nama yang kelak menggema hingga ke seluruh penjuru Nusantara.

Namun, rasa pahit itu seolah menjadi simbol dari perjuangan yang penuh tantangan sebelum akhirnya berbuah manis. Tak lama setelah wilayah Majapahit berdiri, Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama dan mulai membangun fondasi sebuah kerajaan yang kelak menjadi pusat kekuatan politik, ekonomi, dan kebudayaan di Asia Tenggara. Puncak kejayaan Majapahit terjadi pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, dengan Gajah Mada sebagai Mahapatih. Dalam Sumpah Palapanya yang terkenal, Gajah Mada bertekad untuk tidak menikmati kesenangan dunia sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Tekad itu bukan sekadar janji, melainkan strategi besar yang wujudkan melalui penaklukan, aliansi, dan diplomasi antarwilayah.

Kekuasaan Majapahit Meluas

Wilayah kekuasaan Majapahit pun meluas, mencakup sebagian besar pulau-pulau di Nusantara, bahkan menjangkau Semenanjung Malaya dan beberapa wilayah di luar kepulauan Indonesia. Perdagangan berkembang pesat, budaya tumbuh subur, dan tata pemerintahan semakin terstruktur. Dari sebuah hutan dengan buah pahit, lahirlah sebuah pusat peradaban yang segani. Lebih dari sekadar kerajaan, Majapahit menjadi simbol persatuan. Konsep “Nusantara” yang kini gunakan untuk menyebut Indonesia modern, pertama kali perkuat dalam masa kejayaan kerajaan ini. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berasal dari kitab Sutasoma karya Mpu Tantular juga lahir di era Majapahit, menegaskan pentingnya persatuan dalam keberagaman.

Meski akhirnya runtuh akibat konflik internal, perebutan kekuasaan, dan munculnya kekuatan baru dari kerajaan Islam, warisan Majapahit tetap hidup. Jejaknya dapat temukan dalam seni, arsitektur, bahasa, hingga nilai-nilai kebangsaan yang kita pegang hingga kini. Kisah buah Majapahit yang pahit di awal, namun melahirkan kejayaan besar, mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak sederhana bahkan tidak menyenangkan, bisa menjadi awal dari peradaban yang gemilang. Sebuah pengingat bahwa sejarah sering kali berawal dari hal-hal kecil, tetapi berdampak amat besar.