Aceh Tamiang Porak-poranda Usai Bencana Kondisi Miris Sorotan
CeritaKawan.com – Bencana besar yang melanda Aceh Tamiang beberapa hari terakhir meninggalkan kerusakan luas dan penderitaan mendalam bagi warga. Hujan ekstrem yang memicu banjir bandang menyebabkan ratusan rumah hancur, jembatan terputus, hingga sejumlah desa terisolasi total. Kondisi memprihatinkan ini kini menjadi sorotan publik, terutama karena banyak warga masih kesulitan mendapatkan bantuan yang memadai. Aceh Tamiang, yang selama ini kenal sebagai wilayah dengan aktivitas ekonomi dan pertanian yang cukup stabil, tiba-tiba berubah menjadi kawasan penuh lumpur, puing, dan genangan air. Dampak bencana terlihat hampir di seluruh sektor, mulai dari permukiman, fasilitas umum, hingga akses transportasi.
Infrastruktur Hancur, Warga Bertahan dalam Kondisi Memprihatinkan
Banjir bandang menghanyutkan banyak rumah warga yang berada di bantaran sungai. Sebagian warga lainnya bertahan di lantai dua rumah yang masih tersisa, sementara ribuan lainnya mengungsi ke pos darurat yang disediakan pemerintah daerah. Kondisi di pengungsian pun tidak jauh lebih baik—makanan terbatas, perlengkapan tidur kurang, dan layanan kesehatan belum merata. Beberapa jembatan penghubung antar-desa dilaporkan putus, membuat bantuan sulit menjangkau wilayah terdalam. Jalan utama menuju beberapa kecamatan juga rusak parah akibat tergerus arus air. Aliran listrik padam di sejumlah titik, membuat komunikasi terputus sehingga menyulitkan pendataan korban.
Warga mengaku panik saat banjir tiba-tiba menerjang tengah malam. Banyak yang tidak sempat menyelamatkan harta benda, hanya membawa pakaian di badan. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan dalam kondisi ini, terlebih karena akses medis belum optimal. Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan bahwa volume air yang datang dari hulu meningkat drastis akibat curah hujan ekstrem selama beberapa hari berturut-turut. Sungai tak mampu menahan debit air, mengakibatkan luapan besar yang langsung menghantam wilayah pemukiman. Petugas masih terus mengevakuasi korban yang terjebak serta menilai kerusakan.
Respons Pemerintah dan Sorotan Publik Terkait Lambatnya Penanganan
Kondisi memprihatinkan ini memicu kritik dari berbagai pihak. Masyarakat menilai penanganan awal bencana terlalu lambat, membuat banyak warga terpaksa bertahan tanpa bantuan. Video dan foto kondisi desa yang porak-poranda telah viral di media sosial, mengundang perhatian publik dan memancing respons dari pihak pemerintah pusat. Pemerintah daerah mengaku bahwa akses menuju lokasi terdampak menjadi kendala utama. Meski begitu, tim gabungan TNI, Polri, BPBD, dan relawan kini sudah mulai mempercepat distribusi logistik dengan jalur alternatif, termasuk menggunakan perahu dan kendaraan taktis. Bantuan berupa makanan, selimut, obat-obatan, serta peralatan bayi mulai mengalir ke posko-posko darurat. Dari sisi kesehatan, sejumlah tenaga medis dikerahkan untuk mengantisipasi penyakit pascabencana seperti diare, infeksi kulit, dan ISPA.
Sementara itu, tim survei teknis tengah menilai kerusakan jembatan dan fasilitas umum untuk menentukan langkah perbaikan segera. Sorotan juga muncul terkait minimnya sistem mitigasi banjir di Aceh Tamiang. Warga berharap bencana ini menjadi pelajaran agar penanganan dan pencegahan ke depan lebih serius, termasuk perbaikan tanggul sungai dan perluasan daerah resapan air. Kondisi Aceh Tamiang saat ini masih jauh dari pulih. Banyak warga berharap pemerintah mempercepat penyaluran bantuan, memperbaiki infrastruktur vital, dan memastikan tidak ada desa yang terisolasi terlalu lama. Bencana ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan harus diperkuat untuk mencegah dampak yang lebih besar di masa mendatang.
