Museum Sejarah Ternate Diresmikan Menbud Literasi Jadi Prioritas
CeritaKawan.com – Peresmian Museum Sejarah Ternate oleh Menteri Kebudayaan menjadi langkah besar dalam memperkuat ekosistem literasi dan pelestarian budaya di Maluku Utara. Museum yang telah lama nantikan kehadirannya ini harapkan menjadi pusat edukasi sejarah, ruang pembelajaran publik, sekaligus wadah bagi generasi muda untuk memahami akar budaya dan perjalanan panjang Ternate sebagai salah satu pusat peradaban penting di Nusantara. Dalam sambutannya, Menbud menegaskan bahwa museum bukan hanya tempat menyimpan benda kuno, tetapi institusi yang hidup tempat masyarakat mengenal jati diri dan memperluas wawasan.
Menurutnya, budaya literasi dan museum memiliki hubungan erat, karena keduanya sama-sama menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang kritis, berpengetahuan, dan menghargai sejarah. Peresmian ini juga menjadi momentum pemerintah untuk terus menghidupkan kembali museum daerah sebagai sarana pembelajaran yang menarik dan relevan. Museum Sejarah Ternate harapkan tidak hanya menarik wisatawan. Tetapi juga menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum.
Peran Museum Sejarah Ternate dalam Pelestarian Identitas Budaya
Museum Sejarah Ternate rancang tidak hanya sebagai tempat menampilkan koleksi, tetapi sebagai pusat interpretasi sejarah lokal. Di dalamnya terdapat artefak, manuskrip, dokumen, dan benda budaya yang menggambarkan perjalanan panjang Kesultanan Ternate. Kejayaan perdagangan rempah, hingga dinamika sosial yang membentuk identitas masyarakat setempat. Menbud menegaskan bahwa Ternate memiliki peran strategis dalam sejarah Indonesia, terutama di masa kejayaan perdagangan rempah yang menghubungkan Nusantara dengan dunia internasional.
Karena itu, hadirnya museum ini menjadi pengingat penting mengenai kontribusi besar Maluku Utara dalam membentuk jalur perdagangan global di masa lampau. Lebih dari itu, museum ini harapkan mampu menghidupkan kembali rasa bangga masyarakat terhadap identitas budaya mereka. Setiap artefak dan narasi yang tampilkan bukan hanya menyimpan kisah masa lalu, tetapi juga menjadi simbol kekuatan budaya lokal yang harus wariskan kepada generasi berikutnya.
Literasi sebagai Prioritas: Membangun Masyarakat yang Berpengetahuan
Dalam kesempatan yang sama, Menbud menegaskan bahwa pengembangan literasi merupakan prioritas nasional. Museum tidak dapat berdiri sendiri tanpa budaya baca, budaya riset, dan budaya bertanya yang kuat di tengah masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah mendorong agar museum ini menjadi ruang literasi yang modern lengkapi perpustakaan tematik. Program edukasi, dan kegiatan literasi kreatif yang dapat akses semua kalangan. Menbud juga mengajak sekolah, komunitas literasi, dan kelompok pemuda untuk memanfaatkan museum sebagai sarana pembelajaran yang aktif. Program seperti tur sejarah, lokakarya penulisan, diskusi budaya. Hingga pameran tematik rencanakan menjadi agenda rutin yang memperkuat minat masyarakat untuk belajar dan membaca.
Menurutnya, ketika literasi tumbuh, masyarakat akan lebih mudah memahami konteks sejarah. Menghargai perbedaan, serta mampu membangun masa depan dengan sudut pandang yang lebih luas. Museum dan literasi adalah dua elemen penting dalam menciptakan masyarakat yang siap menghadapi tantangan zaman. Peresmian Museum Sejarah Ternate menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam memperkuat pelestarian warisan budaya dan pengembangan literasi nasional. Dengan sinergi antara museum, masyarakat, dan dunia pendidikan, Ternate memiliki peluang besar menjadi pusat literasi dan sejarah yang berpengaruh. Tidak hanya di wilayah timur Indonesia, tetapi juga pada tingkat nasional. Museum ini bukan hanya bangunan baru, tetapi tonggak baru dalam upaya menjaga jati diri bangsa melalui pendidikan dan budaya.
